Barusan ngobrol bareng bapak-bapak tata usaha sambil staplesin kertas
susunan kepanitiaan dan rundown acara nikahan anaknya salah satu temen
kerja juga, sambil nyetaples saya nyeletuk "susunan acara banyak gini biaya nikahnya berapa ya?" si bapak langsung nyeletuk juga "nah
itu makanya nik, kamu sebagai cewe harus tau masalah ginian biar nanti
kalo ditanya cowo udah ada jawaban, kalo yang kayak gini sih banyak duit yang musti disiapin, belum nyewa gedung, catering, biaya salon, dll"
Bapak tata usaha yang saya ajak ngobrol tadi bukan orang bugis, bapak
yang anaknya mau nikah ini juga bukan orang bugis dan menurut saya
mereka termasuk golongan orang yang gak rasis tapi realistis. Jadi ingat kenapa masih ada aja orang yang suka menghubungkan suku dengan biaya pernikahan? oh si itu sukunya ini pasti biayanya banyak tuh coba nikahnya sama suku itu pasti hemat. Di bontang sendiri tempat saya dilahirkan sampai udah kerja sekarang ini, banyak yang nganggap suku bugis itu jujurannya mahal. Saya yang orang tuanya kelahiran sulawesi suka jadi korban "ih orang bugis ya? pasti jujurannya mahal" disini saya juga mau meluruskan,.
1. Sulawesi itu luas gak melulu bugis.
2. Apapun sukunya gak jamin jujurannya banyak atau sedikit.
Selain masalah suku, banyak juga orang yang beranggapan jujuran sama dengan mahar jadi sering pake dalil "wanita yang baik adalah yang paling rendah maharnya, tidak memberatkan pihak laki-laki" terus dijadikan alasan menganggap pihak yang minta jujuran mahal gak ngikuti dalil agama, memberatkan.
Harus dipahami apa yang dimaksud jujuran dan apa yang dimaksud dengan mahar. Sepemahaman saya jujuran adalah biaya pernikahan yang disiapkan bisa oleh pihak laki-laki saja atau berdua dengan pihak perempuan (tergantung kesepakatan) untuk keberlangsungan acara pernikahan. Berapa besaran biaya pernikahan itu? ya tergantung kedua keluarga, kalo pengen nikah cuma di KUA setelah itu syukuran bareng keluarga yang mungkin "jujurannya" gak begitu mahal. Kalo nikah pengen pake acara pengajian dulu lah, bawa hantaran ini itu lah, temu manten lah, setelah akad nikah pengen adain resepsi ngundang 500-an undangan yah dilogikakan sendiri berapa biaya pernikahan yang harus dipersiapkan. Jujuran itu GAK WAJIB tergantung kemampuan dan kesepakatan kedua pihak keluarga. Mahar adalah hal WAJIB yang harus dipenuhi calon suami untuk syarat SAH nya pernikahan yang selanjutnya mahar tersebut menjadi hak istri sepenuhnya. Mahar bisa berupa emas, seperangkat alat solat, uang, atau apapun yang disyaratkan calon istri . Dari tujuannya aja udah jelas JUJURAN dan MAHAR itu BEDA.
Terakhir saya juga jadi sedih dan kecewa atas pemahaman seorang teman yang menghubungkan jujuran dan agama padahal sama sekali hal itu gak ada hubungannya. Beberapa minggu lalu ada seorang teman yang punya niatan baik untuk melamar, dalam masa taaruf saya sebutkan nominal yang sekiranya harus dia persiapkan untuk keberlangsungan acara pernikahan. Saya jelaskan bahwa sejujurnya saya mengharapkan pernikahan yang sederhana yang penting syarat SAH menerut agama dan pemerintah suda terlaksana, tapi saya juga punya keluarga besar yang ikut andil dalam keputusan. Jelas dengan posisi saya memiliki keluarga besar, saya anak terakhir, orang tua saya pasti berharap ngadain acara yang meriah ngundang semua keluarga walaupun gak besar-besaran jelas juga ada biaya yang harus dikeluarkan untuk acara resepsi dan akad nikah, sewa ini itu, konsumsi, dll. Masalah nominal itu masih bisa didiskusikan toh itu bukan hal wajib tapi si teman langsung meng ia kan dan menganggap itu jumlah yang realistis. Yang buat kecewa, dia yang pada saya ngomong nominal itu realistis ternyata ngomong ke orang lain bahwa permintaan saya mengenai nominal gak sesuai sama penilaian dia tentang pemahaman agama saya. Ya allah nyambungnya dimana?,
Setelah keraguan-keraguan saya, ini adalah pemantap hati ini jawaban allah atas doa-doa saya, ini cara allah tunjukkan dia bukanlah jodoh yang dipersiapkan untuk saya, dia yang belum jadi suami aja udah lain dibibir lain dihati gimana kalo udah jadi suami ^^. Tetap saya berdoa semoga si teman segera menemukan jodoh yang terbaik untuknya, yang sesuai dengan prasangkanya, amin allah humma amin.
"Terkadang pengertian yang kita harapkan tidak selamanya sama dengan yang kita inginkan, karena masing-masing manusia memiliki cara berfikir yang berbeda-beda -Unknown"
Kamis, 17 April 2014
0 komentar: